M. Hasibuan: Tokoh Militer dan Politik Bekasi yang Berpengaruh

Kota Bekasi | tonanews.co.id – M. Hasibuan adalah sosok yang sangat berpengaruh di Bekasi. Buktinya, ada Jalan Kolonel M Hasibuan dan Alun-Alun M. Hasibuan Kota di Jalan Pramuka, yang menunjukkan bahwa dia adalah tokoh yang sangat dihormati di.

Lahir pada tahun 1922 di Huta Padang, Hindia Belanda, dan meninggal pada tahun 1961 di Bekasi, Jawa Barat, pada usia yang masih muda, yaitu 39-40 tahun. Seorang politisi dan tokoh militer Indonesia yang aktif dalam Revolusi Nasional Indonesia.

Memiliki karir militer yang cemerlang, dia bergabung dengan TNI Angkatan Laut dan mencapai pangkat Mayor. Beliau juga terlibat dalam pertempuran-pertempuran penting selama Revolusi Nasional Indonesia.

Sesampainya di Babelan, Hasibuan tidak menyerah. Dia bersekutu dengan Laskar Hisbullah pimpinan Noer Ali, sebuah organisasi perjuangan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan keberanian dan ketabahan, Hasibuan memimpin unit pasukan bermayoritas suku Batak yang berlokasi di sekitaran delta Sungai Citarum. Dia juga mendirikan markasnya di Kampung Muara Babakan, sebuah lokasi strategis untuk memimpin pertempuran melawan NICA.

Pada tanggal 29 November 1945, pasukan TKR Laut pimpinannya bersama dengan TKR Batalion V Bekasi dan Laskar Hisbullah pimpinan Noer Ali terlibat pertempuran sengit dengan NICA di Kampung Sasak Kapuk. Pertempuran itu berlangsung sengit, namun Hasibuan dan pasukannya tak menyerah. Mereka terus berjuang, meskipun akhirnya dia bersama dengan Wedana Tanjung Priok, Hindun Witawinangun ditangkap oleh NICA pada tanggal 5 Desember 1945 dan dijebloskan ke Kamp Polonia.

Di dalam tahanan, Hasibuan disiksa oleh NICA, sehingga dia mengalami luka-luka. Namun, rekan-rekannya tak menyerah. Mereka mengancam tidak akan mengosongkan Tanjung Priok apabila NICA tak membebaskan Hasibuan. Akhirnya, pada tanggal 15 Desember 1945, dia dibebaskan oleh NICA.

Seusai dibebaskan, Hasibuan memindahkan markasnya ke Karang Congkok. Meskipun telah mengalami banyak kesulitan, Hasibuan tidak menyerah. Dia terus berjuang, dan setelah tidak lagi menjadi tentara, dia memilih menjadi politisi. Dia menjadi ketua DPRD Bekasi sementara di Kabupaten Bekasi yang pertama.

Meninggal pada usia muda, sekitar 40 tahun, pada tahun 1961. Namun, warisannya tetap hidup, dan namanya diabadikan sebagai nama jalan dan alun-alun di Bekasi.

Selain itu, Hasibuan juga aktif dalam politik, dia menjadi anggota Partai Masyumi. M. Hasibuan, yang nama aslinya adalah Matmuin Hasibuan, adalah seorang tokoh militer dan politik yang berpengaruh di Indonesia.

Sebelum menjadi tokoh militer dan politik, Hasibuan bekerja sebagai pekerja di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, dia bekerja di Pelabuhan Belawan dan kemudian menjadi mandor di Pelabuhan Tanjung Priok. Dia juga hadir dalam proklamasi kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, yang menunjukkan kesetiaannya pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ketika Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta didirikan pada tanggal 27 Agustus 1945, dirinya ditunjuk sebagai komandan sektor wilayah Jakarta Utara karena dia hafal wilayah Pelabuhan Tanjung Priok. Dia kemudian bergabung dengan BKR Laut dan menjadi bagian dari TKR Laut setelah BKR Laut berubah menjadi TKR Laut pada tanggal 10 September 1945.

Memimpin pasukannya dalam pertempuran sengit melawan pasukan NICA dan Sekutu di Jembatan Kali Kresek pada tanggal 6 Oktober 1945. Dia dibantu oleh pasukan bala bantuan dari pelosok utara Jakarta dan Bekasi, namun akhirnya terpaksa menyingkir ke Marunda, Ujungmalang, Kampung Muara, dan Babelan setelah diserang oleh pesawat P-40 Warhawk Sekutu.

Hasibuan adalah contoh dari seorang pemimpin yang berani dan berdedikasi pada negaranya. Dia patut dikenang sebagai pahlawan, dia meninggalkan warisan yang berharga bagi bangsa Indonesia dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya. (Red)

Oleh : Hojot Marluga

Author: Pimpinan Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *